Future

Future

Jumat, 11 Maret 2011

PENERAPAN KODE ETIK

PENERAPAN KODE ETIK

DALAM BIDANG PROFESI TEKNOLOGI INFORMASI


Teknologi Informasi merupakan bidang ilmu pengetahuan baru yang dalam satu dasawarsa ini perkembangannya terasa begitu cepat terutama dalam era modernisasi yang lebih menekankan kecepatan dan efesiensi dalam penerapannya. Bidang ilmu pengetahuan yang kemudian banyak menelurkan produk-produk baik hardware ataupun software dengan skala pemanfaatan dan penggunaan yang sangat tinggi, contohnya perangkat telekomunikasi berbasis multimedia, sistem operasional berbasis robotika, serta program-program desain grafis, database, aplikasi perkantoran, sampai dengan aplikasi rekam kesehatan medis.

Selain menelurkan produk hardware dan software, bidang teknologi informasi juga banyak menciptakan profesi-profesi, para penemu, dan ahli-ahli baru yang terkait dengan penerapan dan pengoperasian teknologi informasi. Diantaranya adalah designer sistem, analyst system, data entry, dan operator yang kini semakin banyak dibutuhkan oleh bidang lainnya (perkantoran, industri, administrasi, entertainment dan hiburan, serta pertahanan keamanan, yang bertujuan untuk lebih mempercepat dan mempermudah proses produksi, pelayanan, sampai dengan memanipulasi gambar dan suara.

Akan tetapi, seiring dengan kemampuan dan kinerja otak manusia yang selalu berinovasi ataupun berkreasi terhadap suatu bidang baru, profesi di bidang TI pun tidak luput dari penyimpangan dan penyalahgunaan fungsi dan tujuan, sehingga muncullah apa yang dinamakan cyber crime atau kejahatan dunia maya yang menggunakan TI sebagai perangkat operasionalnya. Sebagai contoh pembobolan rekening, pembobolan situs (hack), pembajakan VCD/CD/DVD dengan software tertentu, penciptaan varian virus baru, sampai dengan penipuan dengan modus jual-beli online. Yang kesemuanya bisa dilakukan dengan canggih dan rapih bahkan dari tempat yang jauh dari TKP itu sendiri. Itulah konsekuensi dari sebuah penemuan atau perkembangan bidang ilmu baru yaitu TI, yang menciptakan sisi positif namun juga tetap menimbulkan sisi negatif.

Pada dasarnya, dalam melakukan aktivitas apapun, manusia membutuhkan pedoman atau tata kerja yang sifatnya mengatur, sehingga aktivitas seseorang bisa diarahkan sesuai dengan yang tujuan yang ingin dicapai. Dengan pedoman yang sifatnya mengatur, mau tidak mau manusia akan mengikuti pedoman tersebut dan sudah pasti dengan adanya sebuah aturan otomatis berimbas adanya suatu larangan, agar tidak terjadi penyimpangan atau penyalahgunaan aktivitas tersebut.

Dalam dunia kerja atau bisnis, pedoman atau tata kerja suatu aktivitas yang sifatnya mengatur dan mempunyai larangan, biasa disebut dengan kode etik profesi. Kode etik profesi sendiri lebih menekankan rambu-rambu moral dalam melakukan atau menjalankan suatu profesi, baik antar sesama pelaku profesi yang sama, dengan beda profesi, dan dengan masyarakat selaku konsumen.

Beberapa kode etik profesi yang ada di Indonesia dan cukup banyak diketahui masyarakat antara lain kode etik profesi kedokteran, misalnya larangan melakukan mal praktek, kode etik profesi Polri misalnya larangan menggunakan intimidasi selama pemeriksaan tersangka, kode etik profesi advokat, kode etik profesi pilot, dan lain-lain, yang kesemuanya itu apabila dilanggar dapat mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri dan juga masyarakat luas. Dalam dunia TI, sebenarnya bisa diterapkan kode etik tersendiri, mengingat cabang dari ilmu TI dan profesi yang terkait dengan TI cukup banyak dan hampir tersebar di dalam dunia industri, bisnis, dan entertainment, sehingga rentan terjadinya gesekan atau penyalahgunaan keahlian yang dimiliki pelaku profesi tersebut, apabila tidak ada aturan yang mengikat.

Sebagai contoh seorang sistem analis, tidak boleh mengevaluasi program atau sistem milik orang lain dengan motif tidak suka dengan pribadi si pembuat program atau sistem. Atau seorang sistem analis tidak boleh menyarankan kepada pengguna sistem bahwa sistem miliknya lah yang paling baik dengan motif mencari keuntungan pribadi.

Seorang desainer program, tidak boleh membuat suatu program yang bertujuan untuk merusak sistem orang lain atau merugikan masyarakat banyak, misalnya membuat virus atau membuat program bajakan yang mungkin pada dasarnya untuk mempermudah orang lain, namun tetap saja akan berimbas pada kerugian di pihak lainnya, atas royalty yang seharusnya diterima dan juga tidak boleh membuat program dengan maksud membajak hak cipta program orang lain.

Sedangkan untuk seorang programmer atau pelaksana program, tidak boleh memanfaatkan program tersebut untuk merusak atau merugikan orang lain walaupun tidak memiliki motif jahat, misalnya seorang programmer yang meng-hack suatu sistem atau situs dengan maksud sebenarnya hanya ingin dikenal orang lain atau ingin dikenal di lingkungan TI, namun perbuatannya itu bisa mengakibatkan berhentinya atau terganggunya suatu sistem milik orang lain atau bahkan korporasi.

Dalam dunia profesi sekaliber hacker pun mungkin ada kode etik tersendiri antar penggunanya atau dalam melakukan aksinya, misalnya seorang hacker sudah mengetahui suatu situs atau laman tertentu merupakan milik seorang yang termasuk komunitas hacker, dan sudah pasti tidak boleh menyerang atau merusak laman tersebut. Atau mungkin ada komunitas hacker tertentu yang spesialisasinya menjebol situs pemerintahan dengan didasari lingkungan social atau sebagai wujud kebencian terhadap kinerja pemerintah.

Dari sekian contoh penerapan kode etik profesi di bidang TI untuk beberapa macam profesi yan terkait, bisa ditarik kesimpulan bahwa etika profesionalisme seorang ahli atau yang menguasai TI harus bisa menerapkan ilmunya untuk kepentingan atau kemajuan sesuatu, bukan malah merusak atau berbuat kriminalitas dengan keahlian TI yang dimilikinya. Namun aturan di bidang TI pun tidak cukup dengan kode etik yang tidak tertulis, tetapi perlu diwadahi oleh pemerintah di dalam suatu peraturan, mengingat pentingnya peran TI dalam berbagai sektor kehidupan, sehingga potensi cyber crime, hacking, atau penyebaran virus, bisa diminimalisir, karena suatu peraturan perundang-undangan sudah pasti mengandung sanksi yang diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi pelakunya.

-------- terima kasih --------


Jumat, 17 Desember 2010

RESENSI BUKU WARKOP DKI



WARKOP

Dari sekedar bercanda..hingga menjadi legenda

Siapa yang tidak kenal dengan grup lawak Warung Kopi yang beken disebut Warkop, yang mulai berkibar dikancah perlawakan Indonesia yang digawangi oleh trio Dono, Kasino, dan Indro (DKI). Warkop DKI pada masa 80’an sampai dengan akhir 90’an memang merajai dunia perfilman tanah air, dan film-filmnya hingga kini masih tetap menjadi suguhan rutin di hari Idul Fitri, walaupun saat ini personel yang tersisa hanya Indro, karena Kasino dan Dono telah lebih dulu menghadap sang Khalik.

Lawakan mereka yang khas dengan mengusung latar belakang “intelektual kampus”, Warkop DKI lebih banyak menyuguhkan candaan slapstick, parodi plesetan lagu-lagu terkenal baik dalam dan luar negeri pada jamannya, sampai dengan sindiran terhadap kebijakan pemerintah. Akan tetapi metode lawakan yang demikian justru menjadi cepat diterima dan diingat masyarakat dibandingkan grup lawak lain yang gaya candaannya lebih banyak adegan kontak fisik dan sengaja dibuat-buat.

Puluhan film karya mereka telah banyak menyedot jutaan penonton bioskop pada masa tersebut, padahal pada masa itu juga, perfilman di Indonesia sedang lesu dan nyaris mati suri, kalaupun ada lebih banyak film yang mengumbar dan bertemakan “seks”. Ketenaran mereka di dunia perfilman nasional dan perlawakan Indonesia bisa disejajarkan dengan Alm. Benyamin dan Ateng-Iskak yang pada masa itu, film-film keduanya juga banyak menghiasi bioskop-bioskop tanah air.

Kehidupan para personel Warkop DKI di luar dunia film juga dikatakan jauh dari hingar bingar gossip atau gaya hidup borju seperti kebanyakan artis yang mendadak tenar. Bahkan mendekati akhir hayatnya, Dono masih aktif di dunia kampus sebagai pengajar sosiologi Universitas Indonesia.

Mungkin banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa pada awalnya personel Warkop bukan hanya mereka bertiga. Bagaimana sejarah terbentuknya dan perjalanan Warkop yang dahulu masih mengusung Warkop Prambors, karena pada awalnya personel Warkop memulai karir sebagai pengisi acara lawak di stasiun radio Prambors.

Indro sebagai personel terakhir dari Warkop DKi, bermaksud menghidupkan kembali memori dan kerinduan masyarakat akan profil Warkop DKI. Dengan didukung oleh Rudy Badil yang pada awalnya juga personel Warkop (Prambors) pada saat masih eksis di Radio, dan rekan-rekan pada masa aktif di kampus, mereka berdua mencoba mengeluarkan kenangan mereka akan Warkop melalui tulisan buku yang berjudul “Warkop, Main-Main Jadi Bukan Main”.

Buku setebal 278 halaman ini akan membawa pecinta Warkop menikmati perjalanan grup tersebut, mulai dari lingkungan kampus, stasiun Radio, panggung, layar lebar, sampai dengan sinetron. Dalam buku ini, pembaca juga akan disuguhkan potongan slapstick lawakan mereka, lagu-lagu yang diplesetkan, hingga potongan scene dari film-film mereka yang akan membawa pembaca bernostalgia terutama dengan karakter khas Warkop DKI yaitu Dono alias Slamet alias Bemo, Kasino alias Sanwani, dan Indro alias Joy alias Paijo.

KEHIDUPAN KAMPUS DAN RADIO

Buku ini menceritakan bahwa pada mulanya empat mahasiswa FISIP UI yaitu Rudy Badil, Kasino, Nanu “Poltak”, dan Dono memang dikenal dijurusannya masing-masing sebagai tukang cela dengan sindiran yang mereka istilahkan folklore. Mereka kemudian menjalin pertemanan akrab dan pada tahun 1973 mereka berempat mulai aktif mengisi acara di Radio Prambors yang berlokasi tidak jauh dari kampus UI daerah Salemba.

Dari Radio inilah mereka mulai dikenal masyarakat dengan lawakan-lawakan segar dibalut intelektualitas yang mereka miliki. Mereka sering memarodikan ucapan-ucapan atau dialog politik sampai lawakan yang memakai konotasi negative. Dan pada tahun 1975, mahasiswa Universitas Pancasila bernama Indrojoyo alias Indro yang berdomisili di daerah Borobudur Cikini, resmi bergabung dan pada akhirnya mereka berlima membentuk Warung Kopi Prambors.

Seiring dengan perkembangannya, siaran Warkop Prambors mulai mendapat perhatian masyarakat dan membuat masyarakat penasaran seperti apa Warkop Prambors tersebut. Dalam buku ini, penulis juga menyisipkan potongan kalimat-kalimat celaan lucu dari para personelnya yang hingga kini masih banyak diingat masyarakat.

Dari acara Radio inilah mereka mulai banyak menghasilkan kaset-kaset berisi rekaman siaran mereka. Istilahnya kaset tersebut adalah film mereka namun tanpa gambar. Kaset-kaset karya mereka juga mulai laris dicari masyarakat yang memang pada awalnya pendengar tetap acara Warkop Prambors di Radio. Dari kaset ini juga, mereka mulai memasukkan musik-musik jenaka dan music yang berasa dari plesetan lagu-lagu hits artis tenar pada masanya. Mereka juga banyak mengangkat orkes music kampus yang pada awalnya kurang dikenal menjadi ngetop seperti Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP). Hingga akhirnya pada tahun 1979 mereka terjun ke dunia layar lebar, namun personel Rudy Badil memutuskan untuk di belakang layar sebagai penulis naskah sehingga dalam film perdana mereka Warkop Prambors hanya berempat yaitu Dono, Kasino, Indro, dan Nanu.

RAJA BIOSKOP

Pada awal kemunculan film perdana saja, penonton sudah dibuat tertawa dengan adegan-adegan dan dialog dalam film “Mana Tahan”. Mereka berempat memadukan budaya yang berbeda dalam satu alur, yaitu Batak, Jawa, dan Betawi. Film perdana mereka bisa dibilang sukses dan menjadi awal keseriusan mereka untuk menekuni dunia perfilman tanah air.

Barulah pada film kedua di tahun 1980, Warkop Prambors hanya muncul bertiga, yaitu Dono, Kasino, dan Indro. Sedangkan Nanu, sempat mengalami miskomunikasi dengan keiga rekannya karena menerima tawaran bermain film sendiri dan mengakibatkan hubungan mereka agak renggang. Hingga pada tahun 1983, akibat sakit gagal ginjal, Nanu meninggal dunia. Hal ini mengakibatkan pukulan mendalam bagi Warkop Prambors.

Film demi film terus mereka produksi dan pada tahun 1986, mereka memutuskan untuk mengganti nama menjadi Warkop DKI (Dono Kasino Indro). Film mereka pun terus merajai perfilman nasional dan bisa dibilang sebagai penyeimbang antara film Rhoma Irama dan Film yang bertaburan “Bom Seks”. Sampai akhir tahun 1994 total grup Warkop menelurkan 34 karya mereka di dunia film. Suatu karya yang tidak sedikit untuk kategori pelawak dan hanya bisa dilampaui oleh pelawak legendaris lainnya yaitu Bang Ben alias Benny alias Alm. Benyamin. Buku ini juga menampilkan sinopsis tujuh film yang dianggap memiliki kenangan tersendiri bagi penulis (Indro dan Rudy Badil).

Tidak bisa dipungkiri, Warkop DKI telah menjadi legenda lawak tanah air dan belum ada lagi pelawak sekarang yang bisa menyamai keberhasilan mereka, kalaupun ada itupun hanya sebatas di dunia panggung hiburan, bukan layar lebar. Film-film Warkop secara tidak langsung juga ikut mempopulerkan bintang-bintang baru seperti Mat Solar, Mamat Metal, Jack John, Dorman Borisman, nur Tompel, sampai Pak Tile atau menggandeng bintang-bintang beken seperti Nurul Arifin, Sally Marcelina, Kiki Fatmala, dan Eva Arnaz. Dalam film perdananya mereka bahkan berduet dengan Ratu Dangdut Elvi SUkaesih.

Selain itu film-film mereka juga identik dengan selingan parodi musikal yang menghibur dan masih dihafal oleh sebagian masyarakat pecinta Warkop seperti lagu Ticket to Ride (The Beatles), Black Liong, Mamayukero, Mars Warung Kopi, Aku Anak Desa, Beat It (diplesetkan menjadi Kecepirit), sampai lagu instrumen dalam film CHIPS.

Aktivitas mereka di dunia perfilman layar lebar mulai surut pada tahun 1995 bersamaan dengan kesehatan Kasino yang mulai menurun, sehingga mereka memutuskan untuk beralih ke sinetron. Dasar memang popularitas dan basis penggemar yang banyak, sinetron mereka pun menyedot rating penonton yang cukup lumayan untuk sebuah sinetron komedi.

PERSAHABATAN TIADA AKHIR

Kekompakan Warkop DKI memang sudah teruji, bahkan selama mereka berkarir, kehidupan diluar dunia acting mereka jauh dari publikasi ataupun gossip-gosip yang kurang enak. Mereka memiliki manajemen yang bagus sehingga tetap eksis dan tidak ada yang namanya ngetop secara individu layaknay grup lawak sekarang seperti Sule, Parto, dan Narji.

Pada tahun 1997, Kasino Hadiwibowo berpulang kepada sang Khalik akibat penyakit tumor otak yang sudah lama dideritanya. Dan pada tahun 2000, Wahjoe Sardono alias Dono alias Slamet, menyusul Kasino untuk meninggalkan alam dunia. Kehilangan dua personel dalam waktu yang relative singkat membuat Indrojoyo alias Indro menjadi terpukul. Walaupun sepeninggal mereka, Indro mencoba eksis dengan bendera Warkop awalau seorang diri, tetap tidak ada yang bisa menggantikan peran kedua maestro lawak tersebut di hati Indro, hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2000’an, Warkop resmi menarik diri dari hingar bingar perfilman.

Ketenaran Warkop DKI selain karena kelucuan mereka juga karena bakat atau pembentukan karakter unik yang tidak disadari pelawak lain. Dono yang selalu sial, objek celaan, dan selalu bertampang udik nan polos. Kasino yang cerdas dalam menyanyikan lagu-lagu terutama lagu barat dan dengan spontan memarodikan tersebut dengan lirik yang mengundang tawa. Indro yang selalu usil dan pandai memainkan alat musik terutama seruling. Perpaduan bakat tersebut juga didukung dengan kepiawaian mereka membawakan budaya dan logat etnis tertentu, Dono yang Jawa tulen, Kasino yang Betawi, dan Indro yang terkadang berlogat Batak. Keunikan masing-masing karakter tersebut yang membuat ketiganya mampu menyuguhkan lawakan yang bervariatif dan tidak monoton kepada satu personal.

Jumlah personel Warkop DKI yang berjumlah tiga orang, hingga kini menjadi tren kemunculan grup-grup lawak baru yang mengikuti formasi Warkop DKI yaitu 3 personel dengan peran yang sama dengan Warkop DKI yaitu tukang pancing keadaan, eksekutor celaan, dan objek celaan. 25 Tahun perjalanan Warkop DKI yang kini tinggal Indro seorang, akan tetap dikenang masyarakat sebagai legenda lawak yang hingga kini pun film mereka menjadi primadona di kala musim libur tiba.

PENUTUP

Secara objektif walaupun saya adalah penggemar Warkop, menilai Buku ini patut mendapat nilai 8 yang artinya baik. Dengan buku ini kita bisa mengetahui sejarah dan perjalanan awal Warkop, mengingat kembali lawakan-lawakan yang pernah ngetop mulai dari Radio hingga televisi, sampai dengan penghargaan yang pernah mereka terima baik dari pemerintah maupun dari komunitas perfilman.

Indro dan Rudy Badil selaku penulis dan juga saksi sejarah Warkop, jelas memahami betul apa yang harus dituangkan dalam buku yang lebih tepat disebut sejarah Warkop. Sehingga ketika kita membaca tulisan mereka, kita akan merasa sedang menonton film mereka dan tanpa sadar pasti aka nada halaman yang membuat kita tersenyum geli bahkan tertawa.

Mungkin yang menjadi kekurangan dari buku ini adalah bagian pembuka yang terlalu panjang dan justru menceritakan situasi politik di tahun 1960’an, tahun yang sebenarnya bagi kita agak sulit untuk dibayangkan seperti apa keadaannya. Sepertinya penulis ingin membawa pembaca mengetahui bahwasanya selain menjadi pelawak kampus, mereka juga aktif dalam menentang kebijakan politik yang menyengsarakan rakyat pada masa itu (sekarang pun masih, malah lebih sengsara). Penempatan potongan berita-berita dalam beberapa kolom pada satu halaman, juga sedikit menggangu alur membaca kita dan sedikit mengalihkan fokus pembaca yang pada awalnya sedang serius membaca satu bagian.

Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini patut untuk saya rekomendasikan kepada para pecinta buku berlatar biografi khususnya kepada penggemar film-film Warkop. Melalui buku ini, penggemar akan dibawa bernostalgia pada masa 80-90’an, apalagi dengan bonus CD yang berisi lawakan-lawakan mereka semasa di Radio, membuat kita semua khususnya penggemar Warkop selalu berujar “Warkop Ngga Ada Matinye” dan terus mengumandangkan slogan Warkop “Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang”. **